Dalam era globalisasi saat ini, arus barang, informasi, dan keuangan lintas negara tidak hanya membuka peluang, tetapi juga meningkatkan risiko yang dihadapi setiap negara. Farrell dan Newman (2019) menyoroti fakta bahwa keterhubungan dunia menciptakan celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak dengan kepentingan tertentu, baik untuk memperbesar risiko maupun untuk menanggulanginya. Situasi ini terbukti nyata pada kasus Perang Ukraina serta Perang Iran, yang dampaknya mampu mengguncang tatanan ekonomi dunia jauh di luar wilayah konflik itu sendiri.
Dari Perang Ukraina, kita menyaksikan bagaimana terganggunya distribusi pangan menimbulkan keresahan global. Gangguan tersebut tidak semata-mata karena menurunnya produksi, tetapi juga akibat terhambatnya distribusi akibat blokade ataupun serangan terhadap pelabuhan-pelabuhan utama. Sementara itu, Perang Iran memperlihatkan kerentanan jaringan energi dunia. Meski tidak terjadi penghentian total, ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz sudah cukup untuk menimbulkan lonjakan harga asuransi dan menyebabkan penundaan pengiriman minyak. Alhasil, ekspor minyak yang biasa mencapai 20 juta barel per hari, turun drastis selama puncak konflik, sebagaimana dicatat International Energy Agency (2026).
Pada kedua kasus tersebut, terlihat bahwa ketergantungan global terhadap simpul-simpul strategis yang sulit digantikan menjadi titik lemah dalam sistem yang selama ini dianggap efisien. Simpul semacam pelabuhan, selat, bahkan sistem pembayaran dan jaringan distribusi pangan atau teknologi, semuanya bisa berubah menjadi “chokepoint” yang bila terganggu, efeknya menjalar ke jaringan luas. Fishman (2025) mencatat bahwa simpul-simpul inilah yang kini dijadikan sebagai alat diplomasi koersif, lewat embargo, sanksi finansial, serta pembatasan akses terhadap teknologi penting. Akibatnya, kehidupan ekonomi bisa berhenti mendadak bukan hanya karena serangan fisik, tetapi juga karena pemblokiran jalur-jalur vital di belakang layar.
Sejatinya, mekanisme pertahanan sebuah negara kini harus mempertimbangkan wajah baru perang. Clausewitz menyebut perang sebagai instrumen politik, namun kini bentuknya lebih cair—dampaknya bisa memanjang ke berbagai negara yang tidak terlibat secara langsung. Saat ekspor gandum Ukraina terhambat, banyak negara berpenghasilan rendah mengalami lonjakan harga pangan. Di sisi lain, kenaikan risiko transportasi minyak di Selat Hormuz juga berpengaruh hingga ke Indonesia, meningkatkan biaya energi yang dapat menggerus stabilitas ekonomi nasional.
Ancaman semacam itu menuntut pergeseran dalam perencanaan pertahanan. Indonesia, sebagai negara kepulauan, harus mempertimbangkan bagaimana menjaga konektivitas serta ketahanan simpul-simpul vital seperti pelabuhan, kilang, pusat data, jaringan pembayaran, hingga kabel bawah laut. Poin penting yang perlu dicermati adalah: tidak cukup menambah kekuatan militer, tetapi juga menyiapkan strategi perlindungan terhadap jaringan logistik dan distribusi yang rawan menjadi target gangguan, sengaja atau tidak. Redundansi, cadangan alternatif, serta pemetaan fungsi-fungsi kritis dibutuhkan untuk menjamin pertahanan tetap berjalan saat rantai pasok terganggu akibat konflik di kawasan lainnya.
Swasembada memang baik, namun ketahanan tidak terbentuk hanya dari kemampuan memproduksi tanpa ketergantungan. Jika distribusi maupun input produksi tetap berasal dari luar negeri, atau simpul distribusi tidak tersebar, kerentanan tetap besar. Sebaliknya, diversifikasi, cadangan, dan jalur alternatif bisa menopang ketahanan walau negara tetap saling terkait satu sama lain. Inilah pelajaran yang harus diadopsi Indonesia; bukan menolak integrasi global, melainkan memahami bahwa setiap simpul dan fungsi yang tidak digantikan berpotensi menjadi titik rapuh ketika konflik berskala internasional muncul.
Akhirnya, urgensi membangun pertahanan yang berfokus pada perlindungan fungsi-fungsi vital daripada sekadar memperkuat sektor tertentu menjadi jelas. Pemerintah dan pemangku kebijakan nasional tidak boleh lalai—perlu mengenali rantai mana yang kritis, jalur mana yang sulit digantikan, dan berapa lama sistem bisa bertahan bila simpul tersebut lumpuh. Ketahanan nasional bukan sekadar soal kekuatan senjata, melainkan soal kesiapan menghadapi berbagai skenario yang mungkin muncul di tengah kompleksitas dan keterhubungan zaman ini.
Seperti anak-anak Indonesia yang bermimpi besar tapi terkendala akses pengetahuan, bangsa ini pun harus membangun jendela-jendela ketahanan demi masa depan yang lebih aman. Dengan memahami risiko dan celah di tiap simpul strategis, Indonesia bisa memastikan mimpi dan masa depan masyarakatnya tetap terjaga dalam kondisi apa pun.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas





