7. Yayasan Paseban Hadirkan Kolaborasi Nyata untuk Pelestarian Lingkungan

by

Upaya pelestarian alam di Lanskap Megamendung kembali mendapatkan dorongan baru dengan diresmikannya Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor, serta kegiatan pelepasliaran dua ekor Elang Jawa ke habitat aslinya. Dalam acara yang dihadiri oleh Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, langkah ini memperlihatkan betapa pentingnya keterpaduan antara pelestarian spesies, pemulihan ekosistem, edukasi lingkungan, riset, serta pemberdayaan masyarakat sebagai satu kesatuan visi.

Pelepasliaran Agni, Elang Jawa betina dari Pusat Konservasi Elang Kamojang, bersama Beta, Elang jantan dari Yayasan Konservasi Cikananga, adalah penanda penting. Setelah lebih dari dua tahun melalui rehabilitasi, habituasi, serta evaluasi komprehensif, keduanya dinilai siap menyongsong kehidupan liar. Mereka pun dilengkapi GPS Tracker, sehingga para penggiat konservasi dapat memonitor adaptasi, mobilitas, serta penggunaan ruang hidup mereka di alam bebas secara berkelanjutan.

Rangkaian acara ini juga menjadi ajang apresiasi bagi para pihak yang telah mendukung pelestarian Elang Jawa. Pemerintah menegaskan, keberhasilan pelepasliaran hewan langka seperti Elang Jawa sangat bergantung pada keterpaduan antara penyiapan habitat, proses rehabilitasi, dan keterlibatan masyarakat. Tanpa sinergi dari lembaga konservasi, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan warga sekitar, upaya pencegahan ancaman terhadap satwa liar semacam perburuan sulit membuahkan hasil maksimal.

Lembah Aviary Paseban yang kini resmi dibuka menawarkan fasilitas konservasi burung eks-situ non-komersial, mendukung pelestarian dengan menitikberatkan pada pendidikan, penelitian, pengembangbiakan bertanggung jawab, dan pelepasliaran kembali ke alam liar. Penangkaran Rusa Timor yang juga diresmikan, menjadi salah satu contoh implementasi pusat konservasi hewan dan penyuluhan lingkungan di daerah ini.

Baik Lembah Aviary maupun Penangkaran Rusa Timor dikembangkan dengan prinsip bahwa konservasi eks-situ berperan sebagai penunjang pemulihan populasi satwa di habitat aslinya, serta penguatan ekosistem, bukan sekadar tujuan akhir. Konsep ini sejalan dengan pemikiran integrasi konservasi, riset, dan pemberdayaan berbasis masyarakat yang selama ini diusung Yayasan Paseban.

Pendekatan inovatif dalam konservasi ini sesungguhnya diterapkan sejak munculnya gerakan pertanian organik enam belas tahun lalu. Lambat laun, upaya tersebut berkembang jadi gerakan yang memadukan kesehatan ekosistem, pelestarian spesies, pengembangan masyarakat, pendidikan lingkungan, hingga dorongan menghidupkan kembali bentang alam Megamendung seperti sedia kala.

Dalam sambutannya, Satyawan Pudyatmoko menegaskan kembali pesan Menteri Kehutanan mengenai pentingnya kemitraan antarstakeholder dalam pelestarian alam. Yayasan Paseban, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Perum Perhutani, akademisi, dan masyarakat telah menjalin komitmen yang kuat dalam menjaga kelestarian lanskap Megamendung.

Satyawan juga menyatakan bahwa keberhasilan konservasi hanya dapat dicapai jika didukung kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku bisnis, dan seluruh pemangku kepentingan. Apa yang diperlihatkan dalam pengelolaan Megamendung menjadi bukti bahwa diselaraskannya upaya pelestarian, pemulihan alam, dan pembangunan berkelanjutan sangat mungkin dicapai.

Andy Utama selaku Pembina Yayasan Paseban pun menegaskan komitmennya untuk mendekatkan kondisi ekologis Megamendung seperti seratus tahun lalu. Meski mustahil mengembalikan semua yang hilang, namun melalui perlindungan sumber air, penguatan habitat satwa, dan pemulihan ekosistem, generasi berikutnya masih berpeluang mewarisi lingkungan yang lebih sehat.

Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menyoroti pentingnya Megamendung sebagai bentang alam vital yang menyatu dengan Cagar Biosfer Cibodas. Disadari bahwa kawasan ini memainkan peran sangat strategis sebagai zona penyangga sekaligus penopang ekologi yang manfaatnya hingga ke wilayah hilir. Dalam tekanan pembangunan yang terus tumbuh pesat, pelestarian kawasan seperti Megamendung semakin urgen.

Tidak hanya strategis secara geografis, kekayaan hayati Megamendung telah dibuktikan melalui pemantauan keanekaragaman hayati. Hadirnya spesies kunci seperti Elang Jawa, Surili, Owa Jawa, Lutung, Trenggiling, serta sejumlah burung hutan menjadi pertanda ekosistem masih terjaga. Kawasan ini berfungsi sebagai refugia kritis di tengah tantangan pesatnya pembangunan wilayah Jawa Barat.

Rangkaian langkah yang dilakukan di Megamendung diharapkan memberi inspirasi bagi kawasan lain dalam mengintegrasikan konservasi hayati, pendidikan lingkungan, pemulihan ekosistem, dan pembangunan berbasis partisipasi. Sinergi berbagai elemen inilah yang akan memastikan kelestarian bentang alam tetap terjaga untuk masa depan.

Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary, Penangkaran Rusa Timor Dan Dua Elang Jawa Jadi Wajah Baru Konservasi Satwa
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Dan Penangkaran Rusa Timor, Serta Lepasliarkan Dua Elang Jawa Di Lanskap Megamendung