Perlindungan sumber daya alam Indonesia kini menjadi fokus utama TNI, yang pada tahun 2025 menggelar Latihan Terpadu dengan skala besar di Bangka Belitung. Sebanyak 68 ribu prajurit dari Angkatan Darat, Laut, dan Udara dilibatkan dalam latihan yang berlangsung serentak di dua lokasi, Bangka Belitung dan Morowali, sebagai wujud komitmen terhadap instruksi Presiden Prabowo. Arahan ini diberikan untuk menjawab ancaman penambangan ilegal yang menyebabkan kerugian signifikan bagi negara.
Permasalahan tambang ilegal di Bangka Belitung sudah menjadi perhatian serius, setelah Presiden Prabowo mengungkapkan keberadaan sekitar 1.000 titik tambang timah tak berizin di wilayah tersebut. Aktivitas tersebut telah menyebabkan penurunan produksi timah nasional secara drastis dan menciptakan dampak ekologi yang mencemaskan.
Menurut Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, latihan yang digelar lebih dari sekadar pamer kekuatan militer. Ia menekankan urgensi menjaga kedaulatan negara dan penegakan aturan, termasuk dalam konteks pengendalian eksploitasi sumber daya alam. Prinsip yang dipegang adalah bahwa keamanan aset nasional harus didukung kesiapan angkatan bersenjata untuk menangani tantangan nyata di lapangan.
Jenderal Agus Subiyanto, Panglima TNI, menambahkan bahwa latihan kolaboratif ini sekaligus menjadi ajang pengujian efektivitas doktrin OMSP (Operasi Militer Selain Perang). Ia menyampaikan, “Saat ini, menjaga sumber daya alam setara pentingnya dengan mempertahankan batas wilayah. Objek vital nasional seperti tambang di Bangka Belitung maupun Morowali harus bebas dari ancaman oknum penambang ilegal.”
Dalam upaya mengimplementasikan hal tersebut, presiden telah menginstruksikan TNI agar menutup total akses keluar-masuk hasil tambang ilegal, memastikan bahwa pengawasan terhadap pergerakan barang semakin ketat. Beliau menegaskan pentingnya pengendalian penuh atas setiap aktivitas logistik di Pulau Bangka dan Belitung, agar tidak ada celah bagi jaringan penambang liar untuk beroperasi.
Rangkaian latihan disusun menyerupai operasi nyata, mulai dari simulasi serangan udara langsung oleh F-16 hingga operasi darat oleh personel Kostrad. Di sisi lain, aksi cepat KRI milik TNI AL dalam pengamanan ponton serta pengambilan alih titik pasir ilegal oleh satuan khusus menunjukkan kesiapsiagaan prajurit dalam menghadapi kemungkinan eskalasi di lapangan.
Menhan dan Panglima TNI turut meninjau hasil operasi penertiban, dari penyitaan ponton ilegal di pelabuhan hingga lokasi penambangan pasir. Penindakan yang terkoordinasi ini menegaskan bahwa tugas TNI bukan hanya sebatas penegakan hukum, melainkan juga menyangkut upaya strategis mempertahankan aset bangsa dari kehilangan.
Faktor geografis dan potensi ekonomi menjadikan Bangka Belitung sangat rawan terhadap eksploitasi ilegal. Oleh sebab itu, TNI diposisikan sebagai garda terdepan, memastikan keberlanjutan pengelolaan komoditas strategis nasional bebas dari intervensi pihak tidak bertanggung jawab.
Melalui latihan besar-besaran ini, diharapkan upaya pemerintah dalam mengamankan kekayaan negara kian kuat dan kedaulatan bangsa tetap terjaga dalam menghadapi dinamika ancaman non-tradisional.
Sumber: TNI Siap Perang Lawan Mafia Tambang: Latihan Gabungan Besar Di Bangka Belitung Uji Doktrin OMSP
Sumber: TNI Gelar Latihan Gabungan, Kirim Sinyal Perang Ke Mafia Tambang Ilegal





