Suhu air laut di perairan Indonesia semakin hangat, menyebabkan cuaca ekstrem menjadi semakin parah, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, suhu muka air laut yang meningkat juga membuat suhu udara permukaan semakin hangat, mempercepat siklus hidrologi. Hal ini menyebabkan terbentuknya awan-awan yang semakin masif dan cepat. Perbedaan suhu antara Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan perairan Indonesia juga akan menyebabkan aliran massa udara basah dari kedua samudera tersebut. Massa udara basah ini akan memperkuat proses pembentukan awan-awan di Indonesia, yang bisa diperparah oleh fenomena regional seperti Madden-Julian Oscillation.
BMKG memperkirakan peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia pekan ini, dipicu oleh interaksi antara fenomena atmosfer global, regional, dan faktor lokal. Hal ini membuat kondisi udara lebih kondusif untuk pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan hujan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, kilat/petir, angin kencang, serta gelombang laut tinggi. Sesuai dengan Prospek Cuaca Mingguan BMKG periode 14-20 Oktober 2025, langkah pencegahan penting diperlukan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.



