Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab rumah-rumah di Kabupaten Sukabumi mengalami kerusakan saat rangkaian gempa mengguncang wilayah tersebut pada akhir pekan lalu. Menurut Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, kerusakan pada bangunan rumah disebabkan oleh hiposenter gempa yang dangkal, tanah lunak di zona gempa, dan struktur bangunan yang lemah serta tidak standar tahan gempa. Gempa berkekuatan M4,0 menggetarkan Sukabumi pada Sabtu malam pukul 23:47:44 WIB dan diikuti oleh puluhan gempa susulan di hari berikutnya.
Berbagai gempa susulan ini menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Ada 5 rumah yang terdampak dan sekitar 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat. Total 39 gempa susulan terjadi setelah gempa utama, dengan kekuatan bervariasi antara M1,9 hingga M3,8. Gempa tersebut merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal atau shallow crustal earthquake yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Episenter gempa terletak di darat, wilayah Kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi. Data dari Sensor Seismik DBJI dan CBJI menunjukkan karakteristik gelombang gelombang S yang kuat dengan frekuensi tinggi. Direktur BMKG juga menegaskan bahwa gempa tersebut bukan dipicu oleh gempa volkanik, melainkan memiliki mekanisme pergerakan mendatar/geser. Gempa di wilayah Sukabumi-Bogor ini bukan merupakan hasil dari aktivitas Sesar Citarik, dan bukan pula kejadian yang pertama kali terjadi di daerah tersebut.
Sebelumnya, pada Maret 2020 dan Juli 2000, juga tercatat kejadian serupa dengan kerusakan rumah-rumah di beberapa kecamatan termasuk Kabandungan. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut rentan terhadap gempa bumi dan perlunya langkah-langkah pencegahan lebih lanjut untuk mengurangi risiko kerusakan akibat gempa di masa depan.




