Amerika Serikat mendominasi kendali TikTok melalui pembentukan dewan baru yang fokus pada operasi aplikasi tersebut di Negeri Paman Sam. Tujuh kursi di dewan ini akan mengontrol TikTok di Amerika Serikat, dengan enam kursi diisi oleh warga Amerika. Kesepakatan ini sebagai kelanjutan dari tekanan pemerintah AS terhadap ByteDance, induk TikTok asal China, untuk melepas operasinya di AS karena dianggap mengancam keamanan nasional. Di era Presiden Joe Biden, Kongres bahkan mewajibkan ByteDance untuk menjual operasinya di AS atau menghadapi larangan total karena kekhawatiran akan keamanan data pengguna AS dan pengaruh algoritma TikTok terhadap opini publik.
Meski begitu, Presiden Donald Trump, yang kembali menjabat sejak 2025, menggunakan TikTok secara aktif untuk kampanye suksesnya tahun lalu. Investor besar, termasuk Oracle, tampak siap mengambil alih TikTok. Oracle, perusahaan teknologi milik Larry Ellison yang dekat dengan Trump, akan memimpin data dan privasi, serta mengendalikan algoritma TikTok. Saat ini, segala detail kesepakatan telah disepakati dan menunggu tanda tangan untuk finalisasi.
Dewan baru TikTok yang akan diisi oleh “patriot Amerika yang hebat” sesuai dengan Trump, meskipun anggota ketujuhnya akan diumumkan kemudian. Kesepakatan ini juga dibahas dalam pembicaraan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping, di mana Xi disebut “menyetujui” kesepakatan tersebut. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah AS bisa menerima biaya miliaran dolar dari investor yang menguasai TikTok sebagai bagian dari kesepakatan.



