Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa rentetan gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir tidak saling berkaitan. Menurut Daryono, sumber gempa yang berbeda, driving force yang berbeda, dan proses akumulasi yang berbeda menjadikan gempa-gempa ini tidak memiliki hubungan sama sekali. Meskipun beberapa gempa terjadi dalam waktu dekat, hal ini hanya kebetulan karena banyaknya sumber gempa di Indonesia.
Pada Rabu (20/8), Kabupaten Bandung Barat mengalami gempa dengan kekuatan M1,7, disusul oleh gempa magnitudo 4,7 di Kabupaten Karawang yang dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Jawa Barat. Gempa-gempa ini mengalami beberapa gempa susulan dengan kekuatan bervariasi. Sesar Lembang, salah satu sesar aktif di Indonesia, merupakan pemicu gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Sesar Lembang terdiri dari enam segmen patahan yang masih aktif bergerak, membentang dari Kecamatan Padalarang hingga Kecamatan Cilengkrang. Kecepatan pergerakan Sesar Lembang mencapai 6 milimeter per tahun. Sementara itu, Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat adalah sistem sesar yang tersebar di wilayah utara Jawa Barat, termasuk Segmen Baribis dan beberapa segmen lainnya seperti Segmen Ciremai, Cipunegara, dan lain sebagainya. Dengan adanya penguatan dari BMKG, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada terhadap potensi gempa yang dapat terjadi di wilayah tersebut.



