Nasib Lulusan Ilmu Komputer: Dulu Dipuja, Kini Merana

by

Popularitas jurusan ilmu komputer perlahan mulai pudar setelah sempat menjadi yang paling populer di kalangan mahasiswa. Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan ilmu komputer meningkat di Amerika Serikat, menduduki peringkat ketujuh dengan tingkat pengangguran sebesar 6,1 persen. Hal ini tercermin dari perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon dan Google yang melakukan pemotongan karyawan, menyiratkan menurunnya daya tarik pasar kerja bagi lulusan ilmu komputer. Meskipun tercatat sebagai jurusan perguruan tinggi terbaik menurut Princeton Review, industri teknologi tampaknya tidak sepenuhnya memenuhi harapan lulusan ilmu komputer.

Selain itu, data menunjukkan bahwa ilmu komputer memiliki tingkat pengangguran sebesar 6,1 persen, sedikit di bawah jurusan fisika dan antropologi yang memiliki tingkat pengangguran masing-masing sebesar 7,8 dan 9,4 persen. Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prospek karir bagi lulusan ilmu komputer di pasar kerja saat ini.
Menurut laporan The New York Fed, para lulusan baru-baru ini terkena dampak utang mahasiswa, ketimpangan antara jumlah lulusan dengan jumlah pekerjaan yang tersedia, dan preferensi pasar kerja terhadap latar belakang individu. Hal ini berbeda dengan program studi lain seperti ilmu gizi, layanan konstruksi, dan teknik sipil yang memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah.

CEO Nvidia Jensen Huang bahkan memberikan saran agar generasi muda tidak lagi memilih jurusan ilmu komputer atau teknologi informasi. Huang lebih mendukung fokus pada ilmu fisika dibandingkan ilmu komputer. Ia menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan dari waktu ke waktu, dengan gelombang terbaru yaitu ‘Reasoning AI’. Huang memprediksi bahwa AI akan semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang robotika untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja global.

Source link