Sebuah teknologi berbasis AI sedang digunakan untuk membantu konservasi burung hantu barn di selatan Inggris. Teknologi ini dapat menghitung jumlah anak burung melalui analisis suara desisan mereka tanpa memerlukan pemasangan ring atau kamera video di sarang. Kavisha Jayathunge, seorang mahasiswa PhD dari Bournemouth University, adalah pengembang di balik teknologi ini. AI yang dikembangkannya mampu menganalisis rekaman suara burung hantu yang diambil dari luar sarang. Proses analisis ini mengubah frekuensi suara menjadi semacam “barcode” untuk membedakan individu, bahkan ketika perbedaan tersebut tidak terdengar oleh manusia. Metode ini tidak hanya mengurangi stres pada burung tetapi juga memungkinkan pemantauan dari sarang alami yang sulit diakses. Selain itu, analisis suara desisan juga memberikan wawasan tentang perilaku burung hantu untuk memahami keberhasilan berkembang biak mereka.
Ilmuwan Inggris Memanfaatkan AI dalam Konservasi Burung Hantu



