Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 8,7 yang terjadi di Semenanjung Kamchatka, Rusia, menjadi peringatan penting bagi negara-negara di Cincin Api Pasifik, termasuk Indonesia. Menurut Irwan Meilano, seorang pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), gempa besar tersebut yang berpotensi tsunami harus dianggap serius dan menjadi perhatian global, bukan hanya sebagai bencana lokal belaka. Kejadian ini mengingatkan bahwa negara-negara dengan sejarah gempa besar harus siap menghadapi potensi risiko serupa.
Irwan menjelaskan bahwa gempa terjadi di zona seismik yang sebelumnya pernah aktif, tetapi telah lama tidak terjadi gempa besar. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Kamchatka memiliki karakteristik tektonik yang mirip dengan wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa di Indonesia, yang juga rentan terhadap gempa besar. Ancaman tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tersebut harus diantisipasi dengan serius, mengingat dampaknya dapat merambah ke kawasan lain dalam waktu singkat.
Dalam konteks mitigasi bencana, Irwan menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan yang efektif. Dia memberi contoh Jepang yang memiliki sistem mitigasi dan peringatan tsunami yang cukup baik, karena mereka tidak hanya mengandalkan model perhitungan tetapi juga observasi langsung untuk memberikan peringatan akurat dan cepat. Indonesia perlu mencontoh pendekatan ini dan memperkuat sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami.
Irwan menekankan bahwa respons terhadap ancaman gempa dan tsunami harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu terjadinya bencana. Indonesia perlu mempercepat penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis sains dan teknologi terbaru, untuk mengurangi dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh gempa besar di masa depan. Kesiapan bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.



