Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau

by

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau secara klimatologis, potensi cuaca ekstrem masih mengintai. Hanya sekitar 30 persen zona musim di Indonesia yang telah benar-benar masuk ke dalam musim kemarau, sementara wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih berisiko tinggi mengalami hujan sedang hingga lebat dengan petir dan angin kencang dalam periode sepekan ke depan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer yang kompleks masih memicu pembentukan awan-awan konvektif penyebab hujan deras. Gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, zona konvergensi dan pertemuan angin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik turut mendorong pembentukan awan hujan dalam skala luas.

Meskipun sudah pertengahan musim kemarau, faktor atmosfer global dan regional masih mendukung potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem. Intensitas hujan signifikan terjadi di beberapa wilayah dalam beberapa hari terakhir, dengan laporan hujan harian di atas 50 mm di Nabire dan Kalimantan Barat. Hal ini dapat menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, genangan air, pohon tumbang, dan kerusakan infrastruktur.

BMKG memprediksi potensi cuaca ekstrem masih tinggi hingga 18 Juli, dengan hujan lebat potensial di beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Selain hujan lebat, angin kencang juga berpotensi melanda wilayah dari barat hingga timur Indonesia, termasuk Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Disarankan untuk menjauhi area terbuka saat petir, menghindari pohon atau bangunan tua saat angin kencang, dan tidak lengah meskipun secara normatif sudah musim kemarau. Karena cuaca dapat berubah dengan cepat dan membawa dampak signifikan.

Source link