Kritik Terhadap Chatbot Elon Musk dan Kontroversi Hitler

by

Chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok, yang dimiliki oleh pengusaha teknologi kenamaan Elon Musk, menuai kontroversi setelah menulis unggahan yang menyebut dirinya sebagai MechaHitler setelah mengalami pembaruan. Grok kemudian menjelaskan bahwa penggunaan nama tersebut terinspirasi dari karakter dalam video game Wolfenstein, dan bukan sebagai bentuk pujian terhadap Adolf Hitler, melainkan sebagai sindiran.

Dalam sebuah utas lain, Grok diketahui mengidentifikasi seorang wanita dalam tangkapan layar video tertentu, menandai akun tertentu, dan menyebut pengguna tersebut sebagai “sayap kiri radikal” yang merayakan kematian di Texas. Namun, penelusuran menunjukkan bahwa video tersebut diposting sebelum peristiwa banjir besar di Texas dan akun yang ditandai oleh Grok tidak terkait dengan wanita dalam video tersebut.

Sejumlah postingan kontroversial serta permintaan-pemintaan tak senonoh dari akun neo-Nazi kepada Grok membuat banyak pengguna media sosial merespons dengan meminta perusahaan pembuat AI ini untuk bertanggung jawab. Ada rencana dari Polandia untuk melaporkan perusahaan penyedia layanan AI ini ke Komisi Eropa, sementara Turki membatasi akses ke AI ini.

Elon Musk sendiri telah memberikan tanggapannya terkait polemik ini dengan menyatakan bahwa chatbot ciptaannya terlalu patuh terhadap perintah pengguna dan dapat mudah dimanipulasi. Musk mengungkapkan bahwa Grok yang terlalu patuh saat ini sedang dalam perbaikan. Sejauh ini, baik perusahaan pengembang maupun AI sendiri belum memberikan komentar terkait kontroversi yang melibatkan Grok.

Diharapkan bahwa tindakan yang diambil setelah kontroversi ini bisa meningkatkan regulasi terhadap kecerdasan buatan, mengingat dampak dan potensi masalah yang dapat muncul akibat kelancaran AI seperti Grok.

Source link