Para pemilik usaha sablon di Jalan Surapati, Kota Bandung, merasa bahwa kampanye kali ini lebih sepi orderan dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini karena berubahnya model kampanye yang lebih mengandalkan teknologi digital, seperti media sosial.
Salah satu pemilik usaha sablon, Vivi (42 tahun), mengeluhkan sepinya pesanan yang masuk. Dia hanya menerima satu pesanan sepanjang masa kampanye tahun ini, berbeda dengan Pemilu 2019 yang mendapat pesanan yang menumpuk.
Vivi memiliki banyak pelanggan yang memakai jasanya untuk mencetak alat peraga kampanye, terutama kaus. Namun sekarang, banyak partai yang cenderung mengandalkan media sosial sebagai wadah berkampanye.
Meskipun kios sablonnya tidak terlalu besar, Vivi mengaku omzetnya turun drastis dari Rp 1 miliar lima tahun lalu menjadi hanya Rp 300 juta sepanjang masa kampanye ini.
Sementara itu, Dedi (46 tahun) mengaku belum mendapatkan satu pun pesanan sepanjang masa kampanye pemilu tahun ini. Sebelumnya, ia bisa mencetak sekitar 2.000 kaos kampanye, tapi kini tidak ada satu pun pesanan yang masuk. Menurutnya, tahun ini menjadi tahun politik yang paling sepi daripada sebelumnya.
Di sisi lain, Wawan (65 tahun) mengatakan tidak merasakan perubahan yang signifikan dari masa kampanye tahun ini dengan lima tahun lalu. Wawan masih banyak menerima pesanan dari partai-partai besar. Meski begitu, Wawan juga mengalami perubahan dalam pesanan, terdapat banyak pesanan dadakan.
Meskipun masih ramai pesanan, Wawan mengalami penurunan omzet hampir 50 persen dari Rp 8,5 miliar menjadi hanya Rp 1,7 miliar. Dia berharap pesanan akan terus berdatangan, terlebih menjelang detik-detik terakhir masa kampanye.





