Jokowi Mendorong Hilirisasi Secara Besar-besaran Menurut Bahlil

by

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan akselerasi hilirisasi sumber daya alam (SDA) Indonesia. Bahlil mengatakan Jokowi tidak ingin SDA Indonesia tidak memberikan nilai tambah dan malah merugikan negara dan masyarakat dengan menjual dalam bentuk mentah atau bahan baku.

“PResiden Jokowi ingin melakukan hilirisasi secara masif melalui teknologi, membuka pasar luar negeri, untuk meningkatkan pendapatan negara dan memperbaiki defisit neraca perdagangan kita,” ujar Bahlil dalam diskusi Media Center Indonesia Maju bertajuk “Hilirisasi untuk Negeri” di Jakarta, Senin (11/12/2023).

Bahlil menyampaikan bahwa pengelolaan SDA ini hingga 2014 masih berkutat pada perdagangan bahan baku. Hal ini membuat Indonesia tetap menjadi konsumen meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam.

Indonesia memiliki momentum emas sebagai salah satu negara eksportir minyak dan kayu di masa lampau. Namun, tidak ada satu pun perusahaan Indonesia yang masuk dalam sepuluh besar pemain minyak dan kayu terbesar dunia.

“Maaf, kita masih harus membeli minyak dari luar, sedangkan kita memiliki minyak sebanyak 1,5 juta barel per hari, tetapi kapasitas produksi hanya 600 ribu barel per hari, impornya mencapai 850 ribu barel per hari,” ungkap Bahlil.

Bahlil membandingkan dengan Singapura yang justru ‘menang banyak’ karena mampu melakukan pengolahan bahan baku Indonesia. Dari pengolahan tersebut, Singapura bahkan mengirimkan produk jadi dengan harga yang jauh lebih tinggi ke Indonesia.

Bahlil yang juga sempat menjadi pengusaha mengatakan bahwa mengekspor bahan baku SDA cukup menggoda karena perputaran uang yang lebih cepat. Namun, Bahlil mengingatkan para pengusaha agar tidak tergoda karena hal tersebut akan merugikan bangsa.

“Saya pernah menjadi pengusaha, jual kayu, memang mendapatkan uang lebih cepat tetapi itu tidak memberikan nilai tambah bagi bangsa,” kata Bahlil.